Kesimpulan Sejarah Indonesia Pecahan I Menelusuri Peradaban Awal Di Kepulauan Indonesia (Sejarah Indonesia Kelas X Sma/Smk/Ma)

Sekolahmuonline - Kesimpulan Sejarah Indonesia Bab I Menelusuri Peradaban Awal di Kepulauan Indonesia (Sejarah Indonesia Kelas X SMA/SMK/MA). Setelah membaca secara keseluruhan Bab I Menelusuri Peradaban Awal di Kepulauan Indonesia (Sejarah Indonesia Kelas X SMA/SMK/MA) marilah kita sama-sama menyimpulkan nilai-nilai apa yang sanggup dipetik dari kehidupan masa kemudian itu untuk kehidupan pada masa sekarang dan masa mendatang. 

1. Untuk mempelajari sejarah awal insan andal sejarah bergantung pada disiplin arkeologi, geologi dan biologi dan cabang-cabang ilmu lainnya. Masa pra-aksara terbentang dari inovasi insan pertama di planet bumi ini hingga ditemukannya tulisan. Cerita sejarahnya mulai semenjak sekitar 500.000 atau barangkali sekitar 250.000 tahun lalu. 

2. Pengetahuan perihal kehidupan insan pra-aksara menyediakan tanggapan perihal asal-usul  insan dan kemanusiaan, serta keberadaan insan di dunia dalam mencapai impiannya dan rintangan-rintangan yang dihadapinya. Sebagai sebuah bangsa, pembelajaran mengenai kehidupan insan pra-aksara hendaknya menggugah kita untuk memperbarui pertanyaan klasik seperti, dari manakah kita berasal dan bagaimana evolusi perjalanan hidup insan di masa kemudian hingga mencapai suatu tahap sejarah ke tahap berikutnya? 

3. Semakin sadar kita perihal asal seruan dan evolusi yang dijalani nenek moyang di masa lampau, hendaknya semakin ingat pula kita perihal kiprah dan tanggung jawab sebagai seorang penerima didik yang akan membangun bangsa ini. 

4. Nenek moyang orang Indonesia di masa lampau telah menjalani sejarah yang amat panjang dan berat dengan segala tantangan 
zaman yang dihadapi pada masanya. Mereka telah mengalami evolusi atau transformasi sedemikian rupa yaitu, dari nomaden ke kehidupan menetap, dari mengumpulkan masakan dan berburu menjadi penghasil materi makanan, dari ketergantungan total pada alam dan teknologi dalam bentuk manual kepada upaya membuat alat yang kian usang kian canggih, dan dari hidup berkelompok menurut sistem kepemimpinan primus interpares ke susunan masyarakat yang lebih teratur. Semua itu berlangsung dengan cara yang tak gampang dan memakan waktu yang lama, bahkan ribuan tahun.

5. Perubahan-perubahan itu tidak mengalir begitu saja, tetapi dimulai dari reflesi berpikir dan gagasan hasil interaksi mereka dengan alam sekitar. Kondisi lingkungan yang berat mengajarkan bagaimana, misalnya, membuat alat yang sempurna untuk memecahkan problem yang dihadapi. Dalam masyarakat, generasi yang lebih bau tanah meneruskan tradisi dan pengalaman kolektifnya kepada yang lebih muda. Dengan akumulasi pengalaman kolektif itu mereka mencar ilmu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. 

6. Pencapaian prestasi yang diraih insan modern remaja ini telah mengubah dunia dengan cara yang mungkin tak terbayangkan oleh nenek moyang mereka di masa silam. Kehidupan modern dibayar dengan harga besarnya energi yang telah dikuras oleh manusia, baik itu yang tidak terbarui (antara lain minyak bumi, gas, dan batubara) maupun yang terbarui (air, kayu, hutan dan lain-lain). Karena itu, spesialis ilmu hayat Tim Flannery menyebut insan Homo sapiens zaman modern berbeda dengan nenek moyang mereka, alasannya mereka tidak lain adalah  “pemangsa masa depan”. Julukan ini tidak salah apabila kita menghitung kembali kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh eksploitasi insan hingga ketika ini. Bahkan, sumberdaya alami (antara lain tambang mineral, materi bakar fosil, keindahan alam, hutan tropis, dan sumber daya lautan) yang seharusnya bukan menjadi hak insan ketika ini, tetapi warisan bagi anakcucu di masa mendatang, sudah mulai dimanfaatkan atau malah sudah dimakan habis. 

7. Kekayaan sumber kearifan lokal zaman pra-aksara menyediakan ide dan sekaligus peringatan bagi generasi kita bagaimana kekerabatan harmoni antara insan dan alam tidak perlu menjadikan malapetaka bagi insan lain. Kekayaan alam pikir insan pra-aksara terang merupakan kearifan lokal yang harus terus menerus digali lagi dan bukan diremehkan. Mitosmitos perihal awal penciptaan dunia dan asal-usul insan dengan dongeng yang berbeda-beda di banyak sekali suku bangsa, tidak hanya mengandung nilai pelajaran di dalamnya, tetapi juga, jikalau ditelusuri lebih jauh, membawa pesan-pesan rasional yang sering disampaikan secara simbolik. Maka, di ketika insan modern hidup semakin individualistik, semakin terasa pula kebutuhan untuk menegakkan nilai-nilai kearifan lokal. Entah itu yang namanya  berupa gotong royong, kekeluargaan dan kebersamaan. Itulah kebiasaan nenek moyang, misalnya, dalam rangka membangun kampung, mendirikan bangunanbangunan dari kerikil besar atau megalitik. Tidak jarang pula para pemimpin kelompok sosial mengadakan pesta jasa sebagai bukti bahwa mereka sanggup memperlihatkan kesejahteraan bagi anggota masyarakatnya. Semua anggota masyarakat ikut terlibat dan secara gotong royong melakukan upacaraupacara. Masyarakat yang telah mencicipi kesejahteraan yang diberikan pemimpin akan membalas jasa itu dengan bergotong royong mengangkut dan mendirikan kerikil tegak (prasasti) bagi pemimpinnya. Di masa lampau, sifat gotong royong itu, tidak saja terlihat dalam mendirikan bangunan megalitik tetapi juga untuk pendirian rumah, upacara syukuran panen, serta upacara kematian. Apa pun bentuknya, pengalaman kolektif insan pra-aksara yaitu akar tunggang dari budaya Nusantara, yang tentunya sanggup memperkuat budaya Indonesia modern dalam mengarungi globalisasi kala ke-21 ini.

0 Komentar untuk "Kesimpulan Sejarah Indonesia Pecahan I Menelusuri Peradaban Awal Di Kepulauan Indonesia (Sejarah Indonesia Kelas X Sma/Smk/Ma)"

DUKUNG KAMI

SAWER Ngopi Disini.! Merasa Terbantu Dengan artikel ini? Ayo Traktir Kopi Dengan Cara Berbagi Donasi. Agar Kami Tambah Semangat. Terimakasih :)
close
close