Di Balik Uniknya Pakaian Masyarakat Uni Emirat Arab Oleh Nisaus Shofiyah Mahasiswi Prodi Sastra Arab Universitas Gadjah Mada (UGM)

Publikasikaryatulis, salamedukasi.com - Uni Emirat Arab atau UEA merupakan negara federasi yang terbagi menjadi tujuh wilayah yaitu Abu Dhabi, Dubai, Fujairah, Ras al-Khaimah, Sharjah, dan Umm al-Qaiwin. UEA memiliki karakteristik yang sama dengan wilayah Arab lainnya, yaitu wilayah yang hampir seluruhnya diselimuti oleh gurun pasir. Emirati merupakan sebutan untuk penduduk lokal Uni Emirat Arab, baik itu perempuan maupun laki-laki. Mayoritas penduduk Uni Emirat Arab ialah beragama Islam. Meskipun mayoritas beragama Islam, tetapi tidak menjadikan wilayah ini menggunakan hukum Islam sebagi landasan hukum di negaranya. Ada dua jenis hukum yang digunakan di Uni Emirat Arab  yaitu hukum syariah dan hukum negara. Cara berpakaian pun termasuk ke dalam aturan pemerintah UEA. Pakaian nasional Uni Emirat Arab yang sangat terkenal yaitu kandora dan abaya. Kandora merupakan pakaian yang dipakai khusus untuk laki-laki sedangkan abaya dipakai khusus untuk perempuan.


Kandora ialah pakaian nasional para laki-laki Emirati yang memiliki panjang baju semata kaki, berlengan panjang, dan berwarna putih. Kandora digunakan sejak dahulu untuk menjaga si pemakai dari teriknya sinar matahari. Kandora biasa dipakai bersamaan dengan atribut lainnya yaitu penutup kepala, sandal, dan juga tarboosh. Penutup kepala yang digunakan sekilas terlihat seperti kerudung yang terbuat dari bahan katun berbentuk segi empat yang disebut dengan keffiyeh, kufiya, dan ghutrah. Tidak lupa dengan pasangannya, tali hitam yang melingkar di bagian atas penutup kepala disebut dengan agal. Ketika memakai kandora, Emirati biasa menggunakannya dengan penutup kaki yaitu sandal. Kandora juga biasa digunakan untuk pakaian ketika bekerja, sehingga tidak mengherankan ketika di dalam kantor para Emirati lebih banyak memakai pakaian kebanggaannya dibandingkan dengan jas dan celana. Emirati memakai jas dan celana kerja seperti biasa ketika berada dalam pertemuan yang mengharuskan berpakaian seperti itu.


Keunikan lainnya pada kandora ini ialah terdapat tarboosh. Tarboosh merupakan tali atau rumbai menjuntai dari bagian tengah leher yang berada di bagian luar kandora. Pada zaman dahulu tarboosh digunakan oleh para Emirati laki-laki yang menuju medan perang untuk mengingat sang istri di rumah. Caranya ialah dengan mencelupkan ujung tarboosh kedalam minyak wangi. Hal ini digunakan oleh para Emirati untuk melepas rindunya kepada sang istri. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu penggunaan tarboosh sudah tidak lagi menunjukkan bahwa seorang laki-laki tersebut sudah memiliki istri, karena saat ini anak balita dan remaja pun banyak menggunakan tarboosh untuk menghiasi dan sebagai pelengkap kandora saja.

Abaya merupakan pakaian perempuan emirati yang berasal dari wilayah Timur Tengah. Karakteristik dari abaya sendiri seperti jubah yang dikenakan oleh wanita di Timur Tengah dengan pakaian yang lebar dan longgar. Bahan yang digunakan pun bermacam-macam, tetapi mayoritas terbuat dari bahan katun dengan tambahan ornamen berupa payet, border, dan renda. Memakai kandora ataupun abaya bagi Emirati menjadi sebuah kebanggaan tersendiri.

Setiap negara memiliki keunikan masing-masing pada setiap aspek kehidupan sosial dan kebudayaannya. Beragam corak dan warna bisa ditemukan di berbagai wilayah di dunia dengan hal-hal unik di dalamnya. Seperti halnya dengan Uni Emirat Arab dengan pakaian nasionalnya yaitu kandora dan abaya. Kandora dan abaya memiliki cerita di balik penciptaannya yang sampai saat ini dipakai dan menjadi kebanggan para Emirati. Bentuk kandora dan abaya tidak hanya memiliki nilai sejarah, tetapi disesuaikan dengan kondisi geografis dan kondisi sosialnya.

Pengirim : Nisaus Shofiyah, Email : nisaus.shofiyah@mail.ugm.ac.id

Ingin karya tulis Anda terpublikasi di situs web di sini.


Sumber https://www.salamedukasi.com

0 Komentar untuk "Di Balik Uniknya Pakaian Masyarakat Uni Emirat Arab Oleh Nisaus Shofiyah Mahasiswi Prodi Sastra Arab Universitas Gadjah Mada (UGM)"