Al-Qur'an Surat Ke-28. Qs. Al-Qasas (Kisah-Kisah) 88 Ayat Terjemahan Bahasa Indonesia

Surat ke-28. QS. Al-Qasas (Kisah-Kisah) 88 ayat:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

طٰسٓمٓ
Taa-Siiin-Miiim
1. Tha Sin Mim

تِلۡكَ اٰيٰتُ الۡـكِتٰبِ الۡمُبِيۡنِ
Tilka Aayaatul Kitaabil mubiin
2. Ini ayat-ayat Kitab (Al-Qur'an) yang terang (dari Allah).

نَـتۡلُوۡا عَلَيۡكَ مِنۡ نَّبَاِ مُوۡسٰى وَفِرۡعَوۡنَ بِالۡحَـقِّ لِقَوۡمٍ يُّؤۡمِنُوۡنَ
Natluu 'alaika min naba-i Muusaa wa Fi'awna bilhaqqi liqawminy yu'miinuun
3. Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir‘aun dengan sebetulnya untuk orang-orang yang beriman.

اِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِى الۡاَرۡضِ وَجَعَلَ اَهۡلَهَا شِيَـعًا يَّسۡتَضۡعِفُ طَآٮِٕفَةً مِّنۡهُمۡ يُذَبِّحُ اَبۡنَآءَهُمۡ وَيَسۡتَحۡىٖ نِسَآءَهُمۡ‌ ؕ اِنَّهٗ كَانَ مِنَ الۡمُفۡسِدِيۡنَ
Inna Fir'awna 'alaa fil ardi wa ja'ala ahlahaa shiya'ai yastad'ifu taaa'ifatam minhum yuzabbihu abnaaa'ahum wa yastahyii nisaaa'ahum; innahuu kaana minal mufsidiin
4. Sungguh, Fir‘aun sudah berbuat adikara di bumi dan menjadi¬kan orangnya berpecah belah, ia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), ia menyembelih anak pria mereka dan membiarkan hidup anak wanita mereka. Sungguh, ia (Fir‘aun) tergolong orang yang berbuat kerusakan.

وَنُرِيۡدُ اَنۡ نَّمُنَّ عَلَى الَّذِيۡنَ اسۡتُضۡعِفُوۡا فِى الۡاَرۡضِ وَنَجۡعَلَهُمۡ اَٮِٕمَّةً وَّنَجۡعَلَهُمُ الۡوٰرِثِيۡنَۙ
Wa nuriidu an namunna 'alal laziinas tud'ifuu fil ardi wa naj'alahum a'immatanw wa naj'alahumul waarisiin
5. Dan Kami hendak memberi karunia terhadap orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak memicu mereka pemimpin dan memicu mereka orang-orang yang mewarisi (bumi),

وَنُمَكِّنَ لَهُمۡ فِى الۡاَرۡضِ وَنُرِىَ فِرۡعَوۡنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوۡدَهُمَا مِنۡهُمۡ مَّا كَانُوۡا يَحۡذَرُوۡنَ
Wa numakkina lahum fil ardi wa nuriya Fir'awna wa Haamaana wa junuudahumaa minhum maa kaanuu yahzaruun
6. dan Kami teguhkan kedudukan mereka di bumi dan Kami perlihatkan terhadap Fir‘aun dan Haman bareng bala tentaranya apa yang senantiasa mereka takutkan dari mereka.

وَاَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰٓى اُمِّ مُوۡسٰٓى اَنۡ اَرۡضِعِيۡهِ‌ۚ فَاِذَا خِفۡتِ عَلَيۡهِ فَاَ لۡقِيۡهِ فِى الۡيَمِّ وَلَا تَخَافِىۡ وَلَا تَحۡزَنِىۡۚ اِنَّا رَآدُّوۡهُ اِلَيۡكِ وَجٰعِلُوۡهُ مِنَ الۡمُرۡسَلِيۡنَ‏
Wa awhainaaa ilaaa ummi Muusaaa an ardi'iihi faizaa khifti 'alaihi fa alqiihi filyammi wa laa takhaafii wa laa tahzaniii innaa raaadduuhu ilaiki wa jaa'iluuhu minal mursaliin
7. Dan Kami ilhamkan terhadap ibunya Musa, "Susuilah ia (Musa), dan apabila engkau kalut terhadapnya maka hanyutkanlah ia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan membuatnya salah seorang rasul."

فَالۡتَقَطَهٗۤ اٰلُ فِرۡعَوۡنَ لِيَكُوۡنَ لَهُمۡ عَدُوًّا وَّحَزَنًا ‌ ؕ اِنَّ فِرۡعَوۡنَ وَهَامٰنَ وَجُنُوۡدَهُمَا كَانُوۡا خٰطِـــِٕيۡنَ‏
Faltaqatahuuu Aalu Fir'awna li yakuuna lahum 'aduwwanw wa hazanaa; inna Fir'awna wa Haamaana wa junuuda humaa kaanuu khaati'iin
8. Maka ia dipungut oleh keluarga Fir‘aun biar (kelak) ia menjadi lawan dan kesedihan bagi mereka. Sungguh, Fir‘aun dan Haman bareng bala tentaranya merupakan orang-orang yang bersalah.

وَقَالَتِ امۡرَاَتُ فِرۡعَوۡنَ قُرَّتُ عَيۡنٍ لِّىۡ وَلَكَ‌ ؕ لَا تَقۡتُلُوۡهُ ‌ۖ عَسٰٓى اَنۡ يَّـنۡفَعَنَاۤ اَوۡ نَـتَّخِذَهٗ وَلَدًا وَّهُمۡ لَا يَشۡعُرُوۡنَ‏
Wa qoolatim ra atu Fir'awna qurratu 'aynil lii wa lak; laa taqtuluuhu 'asaaa aiyanfa'anaa aw nattakhizahuu waladanw wa hum laa yash'uruun
9. Dan istri Fir‘aun berkata, "(Dia) merupakan penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kau membunuhnya, mudah-mudahan ia berharga terhadap kita atau kita ambil ia menjadi anak," sedang mereka tidak menyadari.

وَاَصۡبَحَ فُؤَادُ اُمِّ مُوۡسٰى فٰرِغًا‌ ؕ اِنۡ كَادَتۡ لَـتُبۡدِىۡ بِهٖ لَوۡلَاۤ اَنۡ رَّبَطۡنَا عَلٰى قَلۡبِهَا لِتَكُوۡنَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ
Wa asbaha fu'aadu ummi Muusaa faarighan in kaadat latubdii bihii law laaa arrabatnaa 'alaa qalbihaa litakuuna minal mu'miniin
10. Dan hati ibu Musa menjadi kosong. Sungguh, nyaris saja ia menyatakannya (rahasia wacana Musa), seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, biar ia tergolong orang-orang yang beriman (kepada kontrak Allah).

وَقَالَتۡ لِاُخۡتِهٖ قُصِّيۡهِ‌ۖ فَبَصُرَتۡ بِهٖ عَنۡ جُنُبٍ وَّهُمۡ لَا يَشۡعُرُوۡنَۙ
Wa qoolat li ukhtihii qussiihi fabasurat bihii 'an junubinw wahum laa yash'uruun
11. Dan ia (ibunya Musa) berkata terhadap kerabat wanita Musa, "Ikutilah ia (Musa)." Maka kelihatan olehnya (Musa) dari jauh, sedang mereka tidak menyadarinya.

وَحَرَّمۡنَا عَلَيۡهِ الۡمَرَاضِعَ مِنۡ قَبۡلُ فَقَالَتۡ هَلۡ اَدُلُّـكُمۡ عَلٰٓى اَهۡلِ بَيۡتٍ يَّكۡفُلُوۡنَهٗ لَـكُمۡ وَهُمۡ لَهٗ نٰصِحُوۡنَ
Wa harramnaa 'alaihil maraadi'a min qablu faqoolat hal adullukum 'alaaa luar biasa baitiny yakfuluunahuu lakum wa hum lahuu naasihuun
12. Dan Kami cegah ia (Musa) menyusu terhadap perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya) sebelum itu; maka berkatalah ia (saudaranya Musa), "Maukah saya tunjukkan kepadamu, keluarga yang hendak memeliharanya untukmu dan mereka sanggup berlaku baik padanya?"

فَرَدَدۡنٰهُ اِلٰٓى اُمِّهٖ كَىۡ تَقَرَّ عَيۡنُهَا وَلَا تَحۡزَنَ وَلِتَعۡلَمَ اَنَّ وَعۡدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّلٰـكِنَّ اَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُوۡنَ
Faradadnaahu ilaa ummihii kai taqarra 'ainuhaa wa laa tahzana wa lita'lama anna wa'dal laahi haqqunw wa laakinna aksarahum laa ya'lamuun
13. Maka Kami kembalikan ia (Musa) terhadap ibunya, biar bahagia hatinya dan tidak bersedih hati, dan biar ia mengenali bahwa kontrak Allah merupakan benar, tetapi pada lazimnya mereka tidak mengetahuinya.

وَلَمَّا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَاسۡتَوٰٓى اٰتَيۡنٰهُ حُكۡمًا وَّعِلۡمًا‌ ؕ وَكَذٰلِكَ نَجۡزِى الۡمُحۡسِنِيۡنَ
Wa lammaa balagha ashuddahuu wastawaaa aatai naahu hukmanw wa 'ilmaa; wa kazaalika najzil muhsiniin
14. Dan setelah ia (Musa) remaja dan tepat akalnya, Kami anugerahkan kepadanya pesan tersirat (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi jawaban terhadap orang-orang yang berbuat baik.

وَدَخَلَ الۡمَدِيۡنَةَ عَلٰى حِيۡنِ غَفۡلَةٍ مِّنۡ اَهۡلِهَا فَوَجَدَ فِيۡهَا رَجُلَيۡنِ يَقۡتَتِلٰنِ هٰذَا مِنۡ شِيۡعَتِهٖ وَهٰذَا مِنۡ عَدُوِّهٖ‌ۚ فَاسۡتَغَاثَهُ الَّذِىۡ مِنۡ شِيۡعَتِهٖ عَلَى الَّذِىۡ مِنۡ عَدُوِّهٖۙ فَوَكَزَهٗ مُوۡسٰى فَقَضٰى عَلَيۡهِ‌ ۖ قَالَ هٰذَا مِنۡ عَمَلِ الشَّيۡطٰنِ‌ ؕ اِنَّهٗ عَدُوٌّ مُّضِلٌّ مُّبِيۡنٌ‏
Wa dakhalal madiinata 'alaa hiine ghaflatim min ahlihaa fawajada fiiha raju laini yaqtatilaani haazaa min shii'atihii wa haaza min 'aduwwihii fastaghaasahul lazii min shii'atihii 'alal lazii min 'aduwwihii fawakazahuu Muusaa faqadaa 'alaihi qoola haaza mi
15. an ia (Musa) masuk ke kota (Memphis) dikala orangnya sedang lengah, maka ia mendapati di dalam kota itu dua orang pria sedang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan yang seorang (lagi) dari pihak musuhnya (kaum Fir‘aun). Orang yang dari golongannya meminta santunan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya, kemudian Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Dia (Musa) berkata, "Ini merupakan perbuatan setan. Sungguh, ia (setan itu) merupakan lawan yang terang menyesatkan."

قَالَ رَبِّ اِنِّىۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِىۡ فَاغۡفِرۡ لِىۡ فَغَفَرَ لَهٗ‌ؕ اِنَّهٗ هُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِيۡمُ‏
Qoola Rabbi innii zalamtu nafsii faghfir lii faghafaralah; innahuu Huwal Ghafuurur Rahiim
16. Dia (Musa) berdoa, "Ya Tuhanku, sesungguhnya saya sudah menzhalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku." Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

قَالَ رَبِّ بِمَاۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَىَّ فَلَنۡ اَكُوۡنَ ظَهِيۡرًا لِّلۡمُجۡرِمِيۡنَ‏
Qoola Rabbi bimaaa an'amta 'alaiya falan akuuna zahiiral lilmujrimiin
17. Dia (Musa) berkata, "Ya Tuhanku! Demi lezat yang sudah Engkau anugerahkan kepadaku, maka saya tidak akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa."

فَاَصۡبَحَ فِى الۡمَدِيۡنَةِ خَآٮِٕفًا يَّتَرَقَّبُ فَاِذَا الَّذِى اسۡتَـنۡصَرَهٗ بِالۡاَمۡسِ يَسۡتَصۡرِخُهٗ‌ ؕ قَالَ لَهٗ مُوۡسٰٓى اِنَّكَ لَـغَوِىٌّ مُّبِيۡنٌ
Fa asbaha fil madiinati khaaa'ifany yataraqqabu fa izal lazis tansarahuu bil amsi yastasrikhuh; qoola lahuu muusaaa innaka laghawiyyum mubiin
18. Karena itu, ia (Musa) menjadi cemas berada di kota itu sambil menanti (akibat perbuatannya), tiba-tiba orang yang kemarin meminta santunan berteriak meminta santunan kepadanya. Musa berkata kepadanya, "Engkau sungguh, orang yang nyata-nyata sesat."

فَلَمَّاۤ اَنۡ اَرَادَ اَنۡ يَّبۡطِشَ بِالَّذِىۡ هُوَ عَدُوٌّ لَّهُمَا ۙ قَالَ يٰمُوۡسٰٓى اَ تُرِيۡدُ اَنۡ تَقۡتُلَنِىۡ كَمَا قَتَلۡتَ نَفۡسًۢا بِالۡاَمۡسِ ‌ۖ اِنۡ تُرِيۡدُ اِلَّاۤ اَنۡ تَكُوۡنَ جَبَّارًا فِى الۡاَرۡضِ وَمَا تُرِيۡدُ اَنۡ تَكُوۡنَ مِنَ الۡمُصۡلِحِيۡنَ‏
Falammaaa an araada ai yabtisha billazii huwa 'aduwwul lahumaa qoola yaa Muusaaa aturiidu an taqtulanii kamaa qatalta nafsam bil amsi in turiidu illaaa an takuuna jabbaaram fil ardi wa maa turiidu an takuuna minal muslihiin
19. Maka dikala ia (Musa) hendak menghantam dengan keras orang yang menjadi lawan mereka berdua, ia (musuhnya) berkata, "Wahai Musa! Apakah engkau bermaksud membunuhku, sebagaimana kemarin engkau membunuh seseorang? Engkau cuma bermaksud menjadi orang yang berbuat adikara di negeri (ini), dan engkau tidak bermaksud menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian."

وَجَآءَ رَجُلٌ مِّنۡ اَقۡصَا الۡمَدِيۡنَةِ يَسۡعٰى قَالَ يٰمُوۡسٰٓى اِنَّ الۡمَلَاَ يَاۡتَمِرُوۡنَ بِكَ لِيَـقۡتُلُوۡكَ فَاخۡرُجۡ اِنِّىۡ لَـكَ مِنَ النّٰصِحِيۡنَ
Wa jaaa'a rajulum min aqsal madiinati yas'aa qoola yaa Muusaaa innal mala a yaa tamiruuna bika liyaqtuluuka fakhruj innii laka minan naasihiin
20. Dan seorang pria tiba bergegas dari ujung kota seraya berkata, "Wahai Musa! Sesungguhnya para pembesar negeri sedang berunding wacana engkau untuk membunuhmu, maka keluarlah (dari kota ini), sesungguhnya saya tergolong orang-orang yang memberi pesan tersirat kepadamu."

فَخَرَجَ مِنۡهَا خَآٮِٕفًا يَّتَرَقَّبُ‌ قَالَ رَبِّ نَجِّنِىۡ مِنَ الۡقَوۡمِ الظّٰلِمِيۡنَ
Fakharaja minhaa khaaa 'ifany-yataraqqab; qoola Rabbi najjinii minal qawmiz zaalimiin
21. Maka keluarlah ia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, berhati-hati (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), ia berdoa, "Ya Tuhanku, selamatkanlah saya dari orang-orang yang zhalim itu."

وَلَـمَّا تَوَجَّهَ تِلۡقَآءَ مَدۡيَنَ قَالَ عَسٰى رَبِّىۡۤ اَنۡ يَّهۡدِيَنِىۡ سَوَآءَ السَّبِيۡلِ
Wa lammaa tawajjaha tilqooa'a Madyana qoola 'asaa Rabbiii ai yahdiyanii Sawaaa'as Sabiil
22. Dan dikala ia menuju ke arah negeri Madyan ia berdoa lagi, "Mudah-mudahan Tuhanku memimpin saya ke jalan yang benar."

وَلَـمَّا وَرَدَ مَآءَ مَدۡيَنَ وَجَدَ عَلَيۡهِ اُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسۡقُوۡنَ وَوَجَدَ مِنۡ دُوۡنِهِمُ امۡرَاَتَيۡنِ تَذُوۡدٰنِ‌ ۚ قَالَ مَا خَطۡبُكُمَا‌ ؕ قَالَـتَا لَا نَسۡقِىۡ حَتّٰى يُصۡدِرَ الرِّعَآءُ‌ۖ وَاَبُوۡنَا شَيۡخٌ كَبِيۡرٌ
Wa lammaa warada maaa'a Madyana wajada 'alaihi ummatam minannaasi yasquuna wa wajada min duunihimum ra ataini tazuudaani qoola maa khatubkumaa qoolataa laa nasqii hataa yusdirar ri'aaa'u wa abuunaa shaikhun kabiir
23. Dan dikala ia hingga di sumber air negeri Madyan, ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita sedang menghalangi (ternaknya). Dia (Musa) berkata, "Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?" Kedua (perempuan) itu menjawab, "Kami tidak sanggup memberi minum (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami merupakan orang renta yang sudah lanjut usianya."

فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰٓى اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّىۡ لِمَاۤ اَنۡزَلۡتَ اِلَىَّ مِنۡ خَيۡرٍ فَقِيۡرٌ
Fasaqoo lahumaa summa tawallaaa ilaz zilli faqoola Rabbi innii limaaa anzalta ilaiya min khairin faqiir
24. Maka ia (Musa) memberi minum (ternak) kedua wanita itu, kemudian ia kembali ke daerah yang teduh kemudian berdoa, "Ya Tuhanku, sesungguhnya saya sungguh membutuhkan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku."

فَجَآءَتۡهُ اِحۡدٰٮہُمَا تَمۡشِىۡ عَلَى اسۡتِحۡيَآءٍ قَالَتۡ اِنَّ اَبِىۡ يَدۡعُوۡكَ لِيَجۡزِيَكَ اَجۡرَ مَا سَقَيۡتَ لَـنَا‌ ؕ فَلَمَّا جَآءَهٗ وَقَصَّ عَلَيۡهِ الۡقَصَصَ ۙ قَالَ لَا تَخَفۡ‌ ۖ نَجَوۡتَ مِنَ الۡقَوۡمِ الظّٰلِمِيۡنَ‏
Fajaaa'at hu ihdaahumaa tamshii 'alas tihyaaa'in qoolat inna abii yad'uuka li yajziyaka ajra maa saqaita lanaa; falammaa jaaa'ahuu wa qassa 'alaihil qasasa qoola laa takhaf najawta minal qawmiz zaalimiin
25. Kemudian datanglah terhadap Musa salah seorang dari kedua wanita itu berlangsung dengan malu-malu, ia berkata, "Sesungguhnya ayahku mengundangmu untuk memberi jawaban selaku imbalan atas (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami." Ketika (Musa) mengunjungi ayahnya (Syuaib) dan ia menceritakan kepadanya kisah (mengenai dirinya), ia (Syuaib) berkata, "Janganlah engkau takut! Engkau sudah selamat dari orang-orang yang zhalim itu."

قَالَتۡ اِحۡدٰٮہُمَا يٰۤاَبَتِ اسْتَاْجِرۡهُ‌ ۖ اِنَّ خَيۡرَ مَنِ اسۡتَـاْجَرۡتَ الۡقَوِىُّ الۡاَمِيۡنُ‏
Qoolat ihdaahumaa yaaa abatis taajirhu inna khaira manistaajartal qawiyyul amiin
26. Dan salah seorang dari kedua (perempuan) itu berkata, "Wahai ayahku! Jadikanlah ia selaku pekerja (pada kita), sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil selaku pekerja (pada kita) merupakan orang yang besar lengan berkuasa dan sanggup dipercaya."

قَالَ اِنِّىۡۤ اُرِيۡدُ اَنۡ اُنۡكِحَكَ اِحۡدَى ابۡنَتَىَّ هٰتَيۡنِ عَلٰٓى اَنۡ تَاۡجُرَنِىۡ ثَمٰنِىَ حِجَجٍ‌ۚ فَاِنۡ اَتۡمَمۡتَ عَشۡرًا فَمِنۡ عِنۡدِكَ‌ۚ وَمَاۤ اُرِيۡدُ اَنۡ اَشُقَّ عَلَيۡكَ‌ؕ سَتَجِدُنِىۡۤ اِنۡ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰلِحِيۡنَ
Qoola innii uriidu an unkihaka ihdab nataiya haataini 'alaaa an taajuranii samaaniya hijaj; fa in atmamta 'ashran famin 'indika wa maaa uriidu an ashuqqa 'alaik; satajiduniii in shaaa'al laahu minas saalihiin
27. Dia (Syuaib) berkata, "Sesungguhnya saya bermaksud ingin menikahkan engkau dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini, dengan ketentuan bahwa engkau melakukan pekerjaan padaku selama delapan tahun dan bila engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu merupakan (suatu kebaikan) darimu, dan saya tidak bermaksud memberatkan engkau. Insya Allah engkau akan mendapatiku tergolong orang yang baik."

قَالَ ذٰ لِكَ بَيۡنِىۡ وَبَيۡنَكَ‌ ؕ اَيَّمَا الۡاَجَلَيۡنِ قَضَيۡتُ فَلَا عُدۡوَانَ عَلَـىَّ‌ ؕ وَاللّٰهُ عَلٰى مَا نَقُوۡلُ وَكِيۡلٌ
Qoola zaalika bainii wa bainaka aiyamal ajalaini qadaitu falaa 'udwaana 'alaiya wallaahu 'alaa ma naquulu Wakiil
28. Dia (Musa) berkata, "Itu (perjanjian) antara saya dan engkau. Yang mana saja dari kedua waktu yang diputuskan itu yang saya sempurnakan, maka tidak ada permintaan (tambahan) atas diriku (lagi). Dan Allah menjadi saksi atas apa yang kita ucapkan."

فَلَمَّا قَضٰى مُوۡسَى الۡاَجَلَ وَسَارَ بِاَهۡلِهٖۤ اٰنَسَ مِنۡ جَانِبِ الطُّوۡرِ نَارًا‌ۚ قَالَ لِاَهۡلِهِ امۡكُثُوۡۤا اِنِّىۡۤ اٰنَسۡتُ نَارًا‌ لَّعَلِّىۡۤ اٰتِيۡكُمۡ مِّنۡهَا بِخَبَرٍ اَوۡ جَذۡوَةٍ مِّنَ النَّارِ لَعَلَّكُمۡ تَصۡطَلُوۡنَ‏
Falammmaa qadaa Muusal ajala wa saara bi ahlihiii aanasa min jaanibit Tuuri naaran qoola li ahlihim kusuuu inniii aanastu naaral la 'alliii aatiikum minhaa bikhabarin aw jazwatim minan naari la 'allakum tastaluun
29. Maka dikala Musa sudah menyelesaikan waktu yang diputuskan itu dan ia berangkat dengan keluarganya, ia menyaksikan api di lereng gunung. Dia berkata terhadap keluarganya, "Tunggulah (di sini), sesungguhnya saya menyaksikan api, mudah-mudahan saya sanggup menjinjing suatu isu kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sepercik api, biar kau sanggup menghangatkan badan."

فَلَمَّاۤ اَتٰٮهَا نُوۡدِىَ مِنۡ شَاطِیٴِ الۡوَادِ الۡاَيۡمَنِ فِى الۡبُقۡعَةِ الۡمُبٰرَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ اَنۡ يّٰمُوۡسٰٓى اِنِّىۡۤ اَنَا اللّٰهُ رَبُّ الۡعٰلَمِيۡنَ
Falammaaa ataahaa nuudiya min shaati'il waadil aimani fil buq'atil muubaarakati minash shajarati ai yaa Muusaaa inniii Anal laahu Rabbul 'aalamiin
30. Maka dikala ia (Musa) hingga ke (tempat) api itu, ia diseru dari (arah) pinggir sebelah kanan lembah, dari sebatang pohon, di sebidang tanah yang diberkahi, "Wahai Musa! Sungguh, Aku merupakan Allah, Tuhan seluruh alam!

وَاَنۡ اَ لۡقِ عَصَاكَ‌ ؕ فَلَمَّا رَاٰهَا تَهۡتَزُّ كَاَنَّهَا جَآنٌّ وَّلّٰى مُدۡبِرًا وَّلَمۡ يُعَقِّبۡ‌ ؕ يٰمُوۡسٰٓى اَ قۡبِلۡ وَلَا تَخَفۡ‌ اِنَّكَ مِنَ الۡاٰمِنِيۡنَ
Wa an alqi 'asaaka falam maa ra aahaa tahtazzu ka annnahaa jaaannunw wallaa mudbiranw wa lam yu'aqqib; yaa Muusaa aqbil wa laa takhaf innaka minal aaminiin
31. Dan lemparkanlah tongkatmu." Maka dikala ia (Musa) melihatnya bergerak-gerak seakan-akan seekor ular yang (gesit), ia lari berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Allah berfirman), "Wahai Musa! Kemarilah dan jangan takut. Sesungguhnya engkau tergolong orang yang aman.

اُسۡلُكۡ يَدَكَ فِىۡ جَيۡبِكَ تَخۡرُجۡ بَيۡضَآءَ مِنۡ غَيۡرِ سُوۡٓءٍ وَّاضۡمُمۡ اِلَيۡكَ جَنَاحَكَ مِنَ الرَّهۡبِ‌ فَذٰنِكَ بُرۡهَانٰنِ مِنۡ رَّبِّكَ اِلٰى فِرۡعَوۡنَ وَمَلَا۟ٮِٕهٖؕ اِنَّهُمۡ كَانُوۡا قَوۡمًا فٰسِقِيۡنَ
Usluk yadaka fii jaibika takhruj baidaaa'a min ghairi suuu'inw wadmum ilaika janaahaka minar rahbi fazaanika burhaanaani mir Rabbika ilaa Fiw'awna wa mala'ih; innahum kaanuu qawman faasiqiin
32. Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, ia akan keluar putih (bercahaya) tanpa cacat, dan dekapkanlah kedua tanganmu ke dadamu apabila ketakutan. Itulah dua mukjizat dari Tuhanmu (yang akan engkau pertunjukkan) terhadap Fir‘aun dan para pembesarnya. Sungguh, mereka merupakan orang-orang fasik."

قَالَ رَبِّ اِنِّىۡ قَتَلۡتُ مِنۡهُمۡ نَفۡسًا فَاَخَافُ اَنۡ يَّقۡتُلُوۡنِ
Qoola Rabbi innii qataltu minhum nafsan fa akhaafu ai yaqtuluun
33. Dia (Musa) berkata, "Ya Tuhanku, sungguh saya sudah membunuh seorang dari kelompok mereka, sehingga saya takut mereka akan membunuhku.

وَاَخِىۡ هٰرُوۡنُ هُوَ اَفۡصَحُ مِنِّىۡ لِسَانًا فَاَرۡسِلۡهُ مَعِىَ رِدۡاً يُّصَدِّقُنِىۡٓ‌ ۖ اِنِّىۡۤ اَخَافُ اَنۡ يُّكَذِّبُوۡنِ
Wa akhii Haaruunu huwa afsahu minnii lisaanan fa arsilhu ma'iya rid ai yusaddiquniii innii akhaafu ai yukazzibuun
34. Dan saudaraku Harun, ia lebih fasih lidahnya ketimbang aku, maka utuslah ia bersamaku selaku pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sungguh, saya takut mereka akan mendustakanku."

قَالَ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِاَخِيۡكَ وَنَجۡعَلُ لَـكُمَا سُلۡطٰنًا فَلَا يَصِلُوۡنَ اِلَيۡكُمَا‌‌ ۛ ‌ۚ بِاٰيٰتِنَاۤ ‌ ۛ‌ ۚ اَنۡـتُمَا وَمَنِ اتَّبَعَكُمَا الۡغٰلِبُوۡنَ‏
Qoola sanashuddu 'adudaka bi akhiika wa naj'alu lakumaa sultaanan falaa yasiluuna ilaikumaa; bi Aayaatinaa antumaa wa manit taba'akumal ghaalibuun
35. Dia (Allah) berfirman, "Kami akan menguatkan engkau (membantumu) dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak akan sanggup mencapaimu; (berangkatlah kau berdua) dengan menjinjing mukjizat Kami, kau berdua dan orang yang mengikuti kau yang hendak menang."

فَلَمَّا جَآءَهُمۡ مُّوۡسٰى بِاٰيٰتِنَا بَيِّنٰتٍ قَالُوۡا مَا هٰذَاۤ اِلَّا سِحۡرٌ مُّفۡتَـرًى وَّمَا سَمِعۡنَا بِهٰذَا فِىۡۤ اٰبَآٮِٕنَا الۡاَوَّلِيۡنَ
Falammaa jaaa'ahum Muusaa bi Aayaatinaa baiyinaatin qooluu maa haazaaa illaa sihrum muftaranw wa maa sami'naa bihaazaa fiii aabaaa'inal awwaliin
36. Maka dikala Musa tiba terhadap mereka dengan (membawa) mukjizat Kami yang nyata, mereka berkata, "Ini hanyalah sihir yang dibuat-buat, dan kami tidak pernah mendengar (yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu."

وَقَالَ مُوۡسٰى رَبِّىۡۤ اَعۡلَمُ بِمَنۡ جَآءَ بِالۡهُدٰى مِنۡ عِنۡدِهٖ وَمَنۡ تَكُوۡنُ لَهٗ عَاقِبَةُ الدَّارِ‌ؕ اِنَّهٗ لَا يُفۡلِحُ الظّٰلِمُوۡنَ
Wa qoola Muusaa Rabbiii a'alamu biman jaaa'a bilhudaa min 'indihii wa man takuunu lahuu 'aaqibatud daari innahuu laa yuflihuz zaalimuun
37. Dan ia (Musa) menjawab, "Tuhanku lebih mengenali siapa yang (pantas) menjinjing isyarat dari sisi-Nya dan siapa yang hendak memperoleh kesudahan (yang baik) di akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tidak akan memperoleh kemenangan."

وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ يٰۤـاَيُّهَا الۡمَلَاُ مَا عَلِمۡتُ لَـكُمۡ مِّنۡ اِلٰهٍ غَيۡرِىۡ‌ ۚ فَاَوۡقِدۡ لِىۡ يٰهَامٰنُ عَلَى الطِّيۡنِ فَاجۡعَلْ لِّىۡ صَرۡحًا لَّعَلِّىۡۤ اَطَّلِعُ اِلٰٓى اِلٰهِ مُوۡسٰى ۙ وَاِنِّىۡ لَاَظُنُّهٗ مِنَ الۡـكٰذِبِيۡنَ
Wa qoola Fir'awnu yaaa aiyuhal mala-u maa 'alimtu lakum min ilaahin ghairii fa awqid lii yaa Haamaanu 'alattiini faj'al lii sarhal la'alliii attali'u ilaaa ilaahi Muusaa wa innii la azunnuhuu minal kaazibiin
38. Dan Fir‘aun berkata, "Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengenali ada Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah tanah liat untukku wahai Haman (untuk bikin kerikil bata), kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku biar saya sanggup naik menyaksikan Tuhannya Musa, dan saya percaya bahwa ia tergolong pendusta."

وَاسۡتَكۡبَرَ هُوَ وَجُنُوۡدُهٗ فِى الۡاَرۡضِ بِغَيۡرِ الۡحَـقِّ وَظَنُّوۡۤا اَنَّهُمۡ اِلَـيۡنَا لَا يُرۡجَعُوۡنَ
Wastakbara huwa wa junuuduhuu fil ardi bighairil haqqi wa zannuuu annahum ilainaa laa yurja'uun
39. Dan ia (Fir‘aun) dan bala tentaranya berlaku sombong, di bumi tanpa argumentasi yang benar, dan mereka menduga bahwa mereka tidak akan dikembalikan terhadap Kami.

فَاَخَذۡنٰهُ وَجُنُوۡدَهٗ فَنَبَذۡنٰهُمۡ فِى الۡيَمِّ‌ۚ فَانْظُرۡ كَيۡفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظّٰلِمِيۡنَ
Fa akhaznaahu wa junuu dahuu fanabaznaahum fil yammi fanzur kaifa kaana 'aaqibatuz zaalimiin
40. Maka Kami siksa ia (Fir‘aun) dan bala tentaranya, kemudian Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang zhalim.

وَجَعَلۡنٰهُمۡ اَٮِٕمَّةً يَّدۡعُوۡنَ اِلَى النَّارِ‌ۚ وَيَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ لَا يُنۡصَرُوۡنَ
Wa ja'alnaahum a'immatany yad'uuna ilan Naari wa Yawmal Qiyaamati laa yunsaruun
41. Dan Kami jadikan mereka para pemimpin yang mengajak (manusia) ke neraka dan pada hari Kiamat mereka tidak akan ditolong.

وَاَتۡبَعۡنٰهُمۡ فِىۡ هٰذِهِ الدُّنۡيَا لَـعۡنَةً‌  ۚ وَيَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ هُمۡ مِّنَ الۡمَقۡبُوۡحِيۡنَ
Wa atba'naahum fii haazihid dunyaa la'natanw wa Yawmal Qiyaamati hum minal maqbuuhiin
42. Dan Kami susulkan laknat terhadap mereka di dunia ini; sedangkan pada hari Kiamat mereka tergolong orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah).
وَلَقَدۡ اٰتَيۡنَا مُوۡسَى الۡكِتٰبَ مِنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ اَهۡلَكۡنَا الۡقُرُوۡنَ الۡاُوۡلٰى بَصَآٮِٕرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَّرَحۡمَةً لَّعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُوۡنَ
Wa laqad aatainaa Muusal Kitaaba mim ba'di maaa ahlaknal quruunal uulaa basaaa'ira linnaasi wa hudanw wa rahmatal la'allahum yata zakkkaruun
43. Dan sungguh, sudah Kami berikan terhadap Musa Kitab (Taurat) setelah Kami binasakan umat-umat terdahulu, untuk menjadi pelita bagi insan dan isyarat serta rahmat, biar mereka memperoleh pelajaran.

وَمَا كُنۡتَ بِجَانِبِ الۡغَرۡبِىِّ اِذۡ قَضَيۡنَاۤ اِلٰى مُوۡسَى الۡاَمۡرَ وَمَا كُنۡتَ مِنَ الشّٰهِدِيۡنَۙ
Wa maa kunta bijaanibil gharbiyyi iz qadainaaa ilaa Muusal amra wa maa kunta minash shaahidiin
44. Dan engkau (Muhammad) tidak berada di sebelah barat (lembah suci Tuwa) dikala Kami menyodorkan perintah terhadap Musa, dan engkau tidak (pula) tergolong orang-orang yang menyaksikan (kejadian itu).

وَلٰـكِنَّاۤ اَنۡشَاۡنَا قُرُوۡنًا فَتَطَاوَلَ عَلَيۡهِمُ الۡعُمُرُ‌ۚ وَمَا كُنۡتَ ثَاوِيًا فِىۡۤ اَهۡلِ مَدۡيَنَ تَـتۡلُوۡا عَلَيۡهِمۡ اٰيٰتِنَاۙ وَلٰـكِنَّا كُنَّا مُرۡسِلِيۡنَ
Wa laakinnaa anshaanaa quruunan fatataawala 'alaihimul 'umur; wa maa kunta saawiyan fiii luar biasa Madyana tatluu 'alaihim Aayaatinaa wa laakinnaa kunnaa mursiliin
45. Tetapi Kami sudah bikin beberapa umat, dan sudah berlalu atas mereka masa yang panjang, dan engkau (Muhammad) tidak tinggal bersamaan penduduk Madyan dengan membacakan ayat-ayat Kami terhadap mereka, tetapi Kami sudah mendelegasikan rasul-rasul.

وَمَا كُنۡتَ بِجَانِبِ الطُّوۡرِ اِذۡ نَادَيۡنَا وَلٰـكِنۡ رَّحۡمَةً مِّنۡ رَّبِّكَ لِتُنۡذِرَ قَوۡمًا مَّاۤ اَتٰٮهُمۡ مِّنۡ نَّذِيۡرٍ مِّنۡ قَبۡلِكَ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُوۡنَ
Wa maa kunta bijaanibit Tuuri iz naadainaa wa laakir rahmatam mir Rabbika litunzira qawmam maaa ataahum min naziirim min qablika la'allahum yatazakkaruun
46. Dan engkau (Muhammad) tidak berada di erat Tur (gunung) dikala Kami menyeru (Musa), tetapi (Kami utus engkau) selaku rahmat dari Tuhanmu, biar engkau memberi perayaan terhadap kaum (Quraisy) yang tidak dihadiri oleh pemberi perayaan sebelum engkau biar mereka memperoleh pelajaran.

وَلَوۡلَاۤ اَنۡ تُصِيۡبَـهُمۡ مُّصِيۡبَةٌۢ بِمَا قَدَّمَتۡ اَيۡدِيۡهِمۡ فَيَقُوۡلُوۡا رَبَّنَا لَوۡلَاۤ اَرۡسَلۡتَ اِلَـيۡنَا رَسُوۡلًا فَنَـتَّبِعَ اٰيٰتِكَ وَنَـكُوۡنَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ
Wa law laaa an tusiibahum musiibatum bimaa qaddamat aidiihim fa yaquuluu Rabbanaa law laaa arsalta ilainaa Rasuulan fanattabi'a Aayaatika wa nakuuna minal mu'miniin
47. Dan biar mereka tidak menyampaikan dikala azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan, "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mendelegasikan seorang rasul terhadap kami, biar kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan tergolong orang mukmin."

فَلَمَّا جَآءَهُمُ الۡحَـقُّ مِنۡ عِنۡدِنَا قَالُوۡا لَوۡلَاۤ اُوۡتِىَ مِثۡلَ مَاۤ اُوۡتِىَ مُوۡسٰى‌ ؕ اَوَلَمۡ يَكۡفُرُوۡا بِمَاۤ اُوۡتِىَ مُوۡسٰى مِنۡ قَبۡلُ ‌ۚ قَالُوۡا سِحۡرٰنِ تَظَاهَرَا وَقَالُوۡۤا اِنَّا بِكُلٍّ كٰفِرُوۡنَ
Falammaa jaaa'ahumul haqqu min 'indinaa qooluu law laa uutiya misla maaa uutiyaa Muusaa; awalam yakfuruu bimaaa uutiya Muusaa min qablu qooluu sihraani tazaaharaa wa qooluuu innaa bikullin kaafiruun
48. Maka dikala sudah tiba terhadap mereka kebenaran (Al-Qur'an) dari segi Kami, mereka berkata, "Mengapa tidak diberikan kepadanya (Muhammad) menyerupai apa yang sudah diberikan terhadap Musa dahulu?" Bukankah mereka itu sudah ingkar (juga) terhadap apa yang diberikan terhadap Musa dahulu? Mereka dulu berkata, "(Musa dan Harun adalah) dua pesihir yang bantu-membantu." Dan mereka (juga) berkata, "Sesungguhnya kami sama sekali tidak mempercayai masing-masing mereka itu."

قُلۡ فَاۡتُوۡا بِكِتٰبٍ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰهِ هُوَ اَهۡدٰى مِنۡهُمَاۤ اَتَّبِعۡهُ اِنۡ كُنۡتُمۡ صٰدِقِيۡنَ
Qul faatuu bi Kitaabim min 'indil laahi huwa ahdaa minhu maaa attabi'hu in kuntum saadiqiin
49. Katakanlah (Muhammad), "Datangkanlah olehmu suatu kitab dari segi Allah yang kitab itu lebih memberi isyarat ketimbang keduanya (Taurat dan Al-Qur'an), tentu saya mengikutinya, bila kau orang yang benar."

فَاِنۡ لَّمۡ يَسۡتَجِيۡبُوۡا لَكَ فَاعۡلَمۡ اَنَّمَا يَـتَّبِعُوۡنَ اَهۡوَآءَهُمۡ‌ ؕ وَمَنۡ اَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوٰٮهُ بِغَيۡرِ هُدًى مِّنَ اللّٰهِ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِيۡنَ
Fa il lam yastajiibuu laka fa'lam annamaa yattabi'uuna ahwaaa'ahum; w kondusif adallu mimmanit taba'a hawaahu bighari hudam minal laah; innal laaha laa yahdil qawmaz zaalimiin
50. Maka bila mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti cita-cita mereka. Dan siapakah yang lebih sesat ketimbang orang yang mengikuti keinginannya tanpa memperoleh isyarat dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi isyarat terhadap orang-orang yang zhalim.

وَلَقَدۡ وَصَّلۡنَا لَهُمُ الۡقَوۡلَ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُوۡنَؕ
Wa laqad wassalnaa lahumul qawla la'allahum yatazakkaruun
51. Dan sungguh, Kami sudah menyodorkan perkataan ini (Al-Qur'an) terhadap mereka biar mereka senantiasa mengingatnya.

اَلَّذِيۡنَ اٰتَيۡنٰهُمُ الۡـكِتٰبَ مِنۡ قَبۡلِهٖ هُمۡ بِهٖ يُؤۡمِنُوۡنَ
Allaziina aatainaahu mul Kitaaba min qablihii hum bihii yu'minuun
52. Orang-orang yang sudah Kami berikan terhadap mereka Al-Kitab sebelum Al-Qur'an, mereka beriman (pula) kepadanya (Al-Qur'an).

وَاِذَا يُتۡلٰى عَلَيۡهِمۡ قَالُوۡۤا اٰمَنَّا بِهٖۤ اِنَّهُ الۡحَـقُّ مِنۡ رَّبِّنَاۤ اِنَّا كُنَّا مِنۡ قَبۡلِهٖ مُسۡلِمِيۡنَ
Wa izaa yutlaa 'alaihim qooluu aamannaa bihiii innahul haqqu mir rabbinaaa innaa kunnaa min qablihii muslimiin
53. Dan apabila (Al-Qur'an) dibacakan terhadap mereka, mereka berkata, "Kami beriman kepadanya, sesungguhnya (Al-Qur'an) itu merupakan suatu kebenaran dari Tuhan kami. Sungguh, sebelumnya kami merupakan orang muslim."

اُولٰٓٮِٕكَ يُؤۡتَوۡنَ اَجۡرَهُمۡ مَّرَّتَيۡنِ بِمَا صَبَرُوۡا وَيَدۡرَءُوۡنَ بِالۡحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقۡنٰهُمۡ يُنۡفِقُوۡنَ‏
Ulaaa'ika yu'tawna ajrahum marratayni bimaa sabaruu wa yadra'uuna bil hasanatis saiyi'ata wa mimmmaa razaq naahum yunfiquun
54. Mereka itu diberi pahala dua kali (karena beriman terhadap Taurat dan Al-Qur'an) disebabkan ketekunan mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang sudah Kami berikan terhadap mereka.

وَاِذَا سَمِعُوا اللَّغۡوَ اَعۡرَضُوۡا عَنۡهُ وَقَالُوۡا لَنَاۤ اَعۡمَالُنَا وَلَـكُمۡ اَعۡمَالُـكُمۡ سَلٰمٌ عَلَيۡكُمۡ لَا نَبۡتَغِى الۡجٰهِلِيۡنَ
Wa izaa sami'ul laghwa a'raduu 'anhu wa qooluu lanaaa a'maalunaa wa lakum a'maalukum salaamun 'alaikum laa nabtaghil jaahiliin
55. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, mudah-mudahan selamatlah kamu, kami tak mau (bergaul) dengan orang-orang bodoh."

اِنَّكَ لَا تَهۡدِىۡ مَنۡ اَحۡبَبۡتَ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهۡدِىۡ مَنۡ يَّشَآءُ‌ؕ وَهُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُهۡتَدِيۡنَ
Innaka laa tahdii man ahbata wa laakinna laaha yahdii mai yashaaa'; wa Huwaa'lamu bilmuhtadiin
56. Sungguh, engkau (Muhammad) tidak sanggup memberi isyarat terhadap orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi isyarat terhadap orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengenali orang-orang yang mau menemukan petunjuk.

وَقَالُوۡۤا اِنۡ نَّـتَّبِعِ الۡهُدٰى مَعَكَ نُـتَخَطَّفۡ مِنۡ اَرۡضِنَا ؕ اَوَلَمۡ نُمَكِّنۡ لَّهُمۡ حَرَمًا اٰمِنًا يُّجۡبٰٓى اِلَيۡهِ ثَمَرٰتُ كُلِّ شَىۡءٍ رِّزۡقًا مِّنۡ لَّدُنَّا وَلٰـكِنَّ اَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُوۡنَ‏
Wa qooluuu in nattabi'il hudaa ma'aka nutakhattaf min ardinaa; awalam numakkkil lahum haraman aaminany yujbaaa ilaihi samaraatu kulli shai'ir rizqam mil ladunnaa wa laakinna aksarahum laa ya'lamuun
57. Dan mereka berkata, "Jika kami mengikuti isyarat bareng engkau, tentu kami akan diusir dari negeri kami." (Allah berfirman) Bukankah Kami sudah meneguhkan kedudukan mereka dalam tanah haram (tanah suci) yang aman, yang didatangkan ke daerah itu buah-buahan dari segala jenis (tumbuh-tumbuhan) selaku rezeki (bagimu) dari segi Kami? Tetapi pada lazimnya mereka tidak mengetahui.

وَكَمۡ اَهۡلَـكۡنَا مِنۡ قَرۡيَةٍۢ بَطِرَتۡ مَعِيۡشَتَهَا ‌ۚ فَتِلۡكَ مَسٰكِنُهُمۡ لَمۡ تُسۡكَنۡ مِّنۡۢ بَعۡدِهِمۡ اِلَّا قَلِيۡلًا ؕ وَكُنَّا نَحۡنُ الۡوٰرِثِيۡنَ
Wa kam ahlaknaa min qaryatim batirat ma'iishatahaa fatilka masaainuhum lam tuskam mim ba'dihim illaa qaliilaa; wa kunnaa Nahnul waarisiin
58. Dan betapa banyak (penduduk) negeri yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya yang sudah Kami binasakan, maka itulah daerah kediaman mereka yang tidak didiami (lagi) setelah mereka, kecuali sebagian kecil. Dan Kamilah yang mewarisinya."

وَ مَا كَانَ رَبُّكَ مُهۡلِكَ الۡقُرٰى حَتّٰى يَبۡعَثَ فِىۡۤ اُمِّهَا رَسُوۡلًا يَّتۡلُوۡا عَلَيۡهِمۡ اٰيٰتِنَا‌ ۚ وَمَا كُنَّا مُهۡلِكِى الۡقُرٰٓى اِلَّا وَاَهۡلُهَا ظٰلِمُوۡنَ
Wa maa kaana Rabbuka muhlikal quraa hattaa yab'asa fiii ummihaa Rasuulany yatluu 'alaihim aayaatina; wa maa kunnaa muhlikil quraaa illaa wa ahluhaa zaalimuun
59. Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri, sebelum Dia mendelegasikan seorang rasul di ibukotanya yang membacakan ayat-ayat Kami terhadap mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan (penduduk) negeri; kecuali orangnya melaksanakan kezhaliman.

وَمَاۤ اُوۡتِيۡتُمۡ مِّنۡ شَىۡءٍ فَمَتَاعُ الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا وَزِيۡنَـتُهَا‌ ۚ وَمَا عِنۡدَ اللّٰهِ خَيۡرٌ وَّاَبۡقٰى‌ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ
Wa maaa uutiitum min shai'in famataa'ul hayaatid dunyaa wa ziinatuhaa; wa maa 'indal laahi khairunw wa abqoo; afalaa ta'qiluun
60. Dan apa saja (kekayaan, jabatan, keturunan) yang diberikan terhadap kamu, maka itu merupakan kesenangan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di segi Allah merupakan lebih baik dan lebih kekal. Tidakkah kau mengerti?

اَفَمَنۡ وَّعَدۡنٰهُ وَعۡدًا حَسَنًا فَهُوَ لَاقِيۡهِ كَمَنۡ مَّتَّعۡنٰهُ مَتَاعَ الۡحَيٰوةِ الدُّنۡيَا ثُمَّ هُوَ يَوۡمَ الۡقِيٰمَةِ مِنَ الۡمُحۡضَرِيۡنَ‏
Afamanw wa'adnaahu wa'dan hasanan fahuwa laaqiihi kamam matta'naahu mataa'al hayaatid dunyaa summa huwa Yawmal Qiyaamati minal muhdariin
61. Maka apakah sama orang yang Kami janjikan kepadanya suatu kontrak yang bagus (surga) kemudian ia memperolehnya, dengan orang yang Kami berikan kepadanya kesenangan hidup duniawi; kemudian pada hari Kiamat ia tergolong orang-orang yang diseret (ke dalam neraka)?

وَيَوۡمَ يُنَادِيۡهِمۡ فَيَـقُوۡلُ اَيۡنَ شُرَكَآءِىَ الَّذِيۡنَ كُنۡتُمۡ تَزۡعُمُوۡنَ
Wa Yawma yunaadiihim fa-yaquulu aina shurakaaa 'iyal laziina kuntum taz'umuun
62. Dan (ingatlah) pada hari dikala Dia (Allah) menyeru mereka dan berfirman, "Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dulu kau sangka?"

قَالَ الَّذِيۡنَ حَقَّ عَلَيۡهِمُ الۡقَوۡلُ رَبَّنَا هٰٓؤُلَاۤءِ الَّذِيۡنَ اَغۡوَيۡنَا ۚ اَغۡوَيۡنٰهُمۡ كَمَا غَوَيۡنَا‌ ۚ تَبَـرَّاۡنَاۤ اِلَيۡكَ‌ مَا كَانُوۡۤا اِيَّانَا يَعۡبُدُوۡنَ
Qoolal laziina haqqa 'alaihimul qawlu Rabbanaa haaa'ulaaa'il laziina aghwainaa aghwainaahu kamaa ghawainaa tabarraanaaa ilaika maa kaanuu iyyaanaa ya'buduun
63. Orang-orang yang sudah pasti akan menemukan eksekusi berkata, "Ya Tuhan kami, mereka inilah orang-orang yang kami sesatkan itu; kami sudah menyesatkan mereka sebagaimana kami (sendiri) sesat, kami menyatakan terhadap Engkau berlepas diri (dari mereka), mereka sekali-kali tidak menyembah kami."

وَقِيۡلَ ادۡعُوۡا شُرَكَآءَكُمۡ فَدَعَوۡهُمۡ فَلَمۡ يَسۡتَجِيۡبُوۡا لَهُمۡ وَرَاَوُا الۡعَذَابَ‌ۚ لَوۡ اَنَّهُمۡ كَانُوۡا يَهۡتَدُوۡنَ
Wa qiilad 'uu shurakaaa'akum fada'awhum falam yastajiibuu lahum wa ra awul 'azaab; law annahum kaanuu yahtaduun
64. Dan dibilang (kepada mereka), "Serulah sekutu-sekutumu," kemudian mereka menyerunya, tetapi yang diseru tidak menyambutnya, dan mereka menyaksikan azab. (Mereka itu berkeinginan) sekiranya mereka dulu menemukan petunjuk.

وَيَوۡمَ يُنَادِيۡهِمۡ فَيَـقُوۡلُ مَاذَاۤ اَجَبۡتُمُ الۡمُرۡسَلِيۡنَ
Wa Yawma yunaadiihim fa yaquulu maazaaa ajabtumul mursaliin
65. Dan (ingatlah) pada hari dikala Dia (Allah) menyeru mereka, dan berfirman, "Apakah jawabanmu terhadap para rasul?"

فَعَمِيَتۡ عَلَيۡهِمُ الۡاَنۡۢبَآءُ يَوۡمَٮِٕذٍ فَهُمۡ لَا يَتَسَآءَلُوۡنَ‏
Fa'amiyat 'alaihimul ambaaa'u Yawma'izin fahum laa yatasaaa'aluun
66. Maka gelaplah bagi mereka segala jenis argumentasi pada hari itu, lantaran itu mereka tidak saling bertanya.

فَاَمَّا مَنۡ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًـا فَعَسٰٓى اَنۡ يَّكُوۡنَ مِنَ الۡمُفۡلِحِيۡنَ
Fa ammaa man taaba wa aamana wa 'amila saalihan fa'asaaa ai yakuuna minal muflihiin
67. Maka adapun orang yang bertobat dan beriman, serta menjalankan kebajikan, maka mudah-mudahan ia tergolong orang yang beruntung.

وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُ‌ؕ مَا كَانَ لَهُمُ الۡخِيَرَةُ‌ ؕ سُبۡحٰنَ اللّٰهِ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشۡرِكُوۡنَ
Wa Rabbuka yakhuluqu maa yashaaa'u wa yakhtaar; maa kaana lahumul khiyarah; Subhannal laahi wa Ta'aalaa 'ammmaa yushrikuun
68. Dan Tuhanmu bikin dan memutuskan apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.

وَرَبُّكَ يَعۡلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُوۡرُهُمۡ وَمَا يُعۡلِنُوۡنَ
Wa Rabbuka ya'lamu maa tukinnu suduuruhum wa maa yu'linuun
69. Dan Tuhanmu mengenali apa yang disembunyikan dalam dada mereka dan apa yang mereka nyatakan.

وَهُوَ اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ‌ؕ لَـهُ الۡحَمۡدُ فِى الۡاُوۡلٰى وَالۡاٰخِرَةِ وَلَـهُ الۡحُكۡمُ وَاِلَيۡهِ تُرۡجَعُوۡنَ‏
Wa Huwal laahu laaa ilaaha illaa Huwa lahul hamdu fil uulaa wal Aakhirati wa lahul hukmu wa ilaihi turja'uun
70. Dan Dialah Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, segala puji bagi-Nya di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nya segala penentuan dan kepada-Nya kau dikembalikan.

قُلۡ اَرَءَيۡتُمۡ اِنۡ جَعَلَ اللّٰهُ عَلَيۡكُمُ الَّيۡلَ سَرۡمَدًا اِلٰى يَوۡمِ الۡقِيٰمَةِ مَنۡ اِلٰـهٌ غَيۡرُ اللّٰهِ يَاۡتِيۡكُمۡ بِضِيَآءٍ‌ؕاَفَلَا تَسۡمَعُوۡنَ
Qul ara'aitum in ja'alal laahu 'alaikumul laila sarmadan ilaa Yawmil Qiyaamati man ilaahun ghairul laahi yaa tiikum bidiyaaa'in afalaa tasma'uun
71. Katakanlah (Muhammad), "Bagaimana pendapatmu, bila Allah memicu untukmu malam itu terus-menerus hingga hari Kiamat. Siapakah tuhan selain Allah yang hendak menghadirkan sinar terang kepadamu? Apakah kau tidak mendengar?"

قُلۡ اَرَءَيۡتُمۡ اِنۡ جَعَلَ اللّٰهُ عَلَيۡكُمُ النَّهَارَ سَرۡمَدًا اِلٰى يَوۡمِ الۡقِيٰمَةِ مَنۡ اِلٰـهٌ غَيۡرُ اللّٰهِ يَاۡتِيۡكُمۡ بِلَيۡلٍ تَسۡكُنُوۡنَ فِيۡهِ‌ؕ اَفَلَا تُبۡصِرُوۡنَ‏
Qul ara'aitum in ja'alal laahu 'alaikumun nahaara sarmadan ilaa Yawmil Qiyaamati man ilaahun ghairul laahi yaatiikum bilailin taskunuuna fiihi afalaa tubsiruun
72. Katakanlah (Muhammad), "Bagaimana pendapatmu, bila Allah memicu untukmu siang itu terus-menerus hingga hari Kiamat. Siapakah tuhan selain Allah yang hendak menghadirkan malam kepadamu selaku waktu istirahatmu? Apakah kau tidak memperhatikan?"

وَمِنۡ رَّحۡمَتِهٖ جَعَلَ لَـكُمُ الَّيۡلَ وَالنَّهَارَ لِتَسۡكُنُوۡا فِيۡهِ وَلِتَبۡتَغُوۡا مِنۡ فَضۡلِهٖ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُوۡنَ
Wa mir rahmatihii ja'ala lakumul laila wannahaara litaskunuu fiihi wa litabtaghuu min fadlihii wa la'allakum tashkuruun
73. Dan merupakan lantaran rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, biar kau beristirahat pada malam hari dan biar kau mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan biar kau bersyukur kepada-Nya.

وَيَوۡمَ يُنَادِيۡهِمۡ فَيَـقُوۡلُ اَيۡنَ شُرَكَآءِىَ الَّذِيۡنَ كُنۡتُمۡ تَزۡعُمُوۡنَ
Wa Yawma yunaadiihim fa yaquulu aina shurakaaa'iyal laziina kuntum tazz'umuun
74. Dan (ingatlah) pada hari dikala Dia (Allah) menyeru mereka, dan berfirman, "Di manakah sekutu-sekutu-Ku yang dulu kau sangka?"

وَنَزَعۡنَا مِنۡ كُلِّ اُمَّةٍ شَهِيۡدًا فَقُلۡنَا هَاتُوۡا بُرۡهَانَكُمۡ فَعَلِمُوۡۤا اَنَّ الۡحَـقَّ لِلّٰهِ وَضَلَّ عَنۡهُمۡ مَّا كَانُوۡا يَفۡتَرُوۡنَ
Wa naza'naa min kulli ummatin shahiidan faqulnaa haatuu burhaanakum fa'alimuuu annal haqqa lillaahi wa dalla 'anhum maa kaanuu yaftaruun
75. Dan Kami datangkan dari setiap umat seorang saksi, kemudian Kami katakan, "Kemukakanlah bukti kebenaranmu," maka tahulah mereka bahwa yang hak (kebenaran) itu milik Allah dan lenyaplah dari mereka apa yang dulu mereka ada-adakan.

اِنَّ قَارُوۡنَ كَانَ مِنۡ قَوۡمِ مُوۡسٰى فَبَغٰى عَلَيۡهِمۡ‌ۖ وَاٰتَيۡنٰهُ مِنَ الۡكُنُوۡزِ مَاۤ اِنَّ مَفَاتِحَهٗ لَـتَـنُوۡٓاُ بِالۡعُصۡبَةِ اُولِى الۡقُوَّةِ اِذۡ قَالَ لَهٗ قَوۡمُهٗ لَا تَفۡرَحۡ‌ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الۡفَرِحِيۡنَ
Inna Qooruuna kaana min qawmi Muusaa fabaghaaa 'alaihim wa aatainaahu minal kunuuzi maaa inna mafaati hahuu latanuuu'u bil'usbati ulil quwwati iz qoola lahuu qawmuhuu laa tafrah innal laahaa laa yuhibbul farihiin
76. Sesungguhnya Karun tergolong kaum Musa, tetapi ia berlaku zhalim terhadap mereka, dan Kami sudah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) dikala kaumnya berkata kepadanya, "Janganlah engkau terlalu bangga. Sungguh, Allah tidak menggemari orang yang membanggakan diri."

وَابۡتَغِ فِيۡمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّارَ الۡاٰخِرَةَ‌ وَلَا تَنۡسَ نَصِيۡبَكَ مِنَ الدُّنۡيَا‌ وَاَحۡسِنۡ كَمَاۤ اَحۡسَنَ اللّٰهُ اِلَيۡكَ‌ وَلَا تَبۡغِ الۡـفَسَادَ فِى الۡاَرۡضِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الۡمُفۡسِدِيۡنَ
Wabtaghi fiimaaa aataakal laahud Daaral Aakhirata wa laa tansa nasiibaka minad dunyaa wa ahsin kamaaa ahsanal laahu ilaika wa laa tabghil fasaada fil ardi innal laaha laa yuhibbul mufsidiin
77. Dan carilah (pahala) negeri darul abadi dengan apa yang sudah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kau lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah sudah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kau berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menggemari orang yang berbuat kerusakan.

قَالَ اِنَّمَاۤ اُوۡتِيۡتُهٗ عَلٰى عِلۡمٍ عِنۡدِىۡ‌ؕ اَوَلَمۡ يَعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰهَ قَدۡ اَهۡلَكَ مِنۡ قَبۡلِهٖ مِنَ الۡقُرُوۡنِ مَنۡ هُوَ اَشَدُّ مِنۡهُ قُوَّةً وَّاَكۡثَرُ جَمۡعًا‌ؕ وَلَا يُسۡــَٔلُ عَنۡ ذُنُوۡبِهِمُ الۡمُجۡرِمُوۡنَ‏
Qoola innamaaa uutii tuhuu 'alaa 'ilmin 'indiii; awalam ya'lam annal laaha qad ahlaka min qablihii minal quruuni man huwa ashaddu minhu quwwatanw wa aksaru jam'aa; wa laa yus'alu 'an zunuubihimul mujrimuun
78. Dia (Karun) berkata, "Sesungguhnya saya diberi (harta itu), semata-mata lantaran ilmu yang ada padaku." Tidakkah ia tahu, bahwa Allah sudah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih besar lengan berkuasa daripadanya, dan lebih banyak menghimpun harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya wacana dosa-dosa mereka.

فَخَرَجَ عَلٰى قَوۡمِهٖ فِىۡ زِيۡنَتِهٖ‌ؕ قَالَ الَّذِيۡنَ يُرِيۡدُوۡنَ الۡحَيٰوةَ الدُّنۡيَا يٰلَيۡتَ لَـنَا مِثۡلَ مَاۤ اُوۡتِىَ قَارُوۡنُۙ اِنَّهٗ لَذُوۡ حَظٍّ عَظِيۡمٍ
Fakharaja 'alaa qawmihii fii ziinatih; qoolal laziina yuriiduunal hayaatad dunyaa yaalaita lanaa misla maaa uutiya Qooruunu innahuu lazuu hazzin 'aziim
79. Maka keluarlah ia (Karun) terhadap kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia berkata, "Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan menyerupai apa yang sudah diberikan terhadap Karun, sesungguhnya ia sungguh-sungguh mempunyai keberuntungan yang besar."

وَقَالَ الَّذِيۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ وَيۡلَـكُمۡ ثَوَابُ اللّٰهِ خَيۡرٌ لِّمَنۡ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًـا ۚ وَلَا يُلَقّٰٮهَاۤ اِلَّا الصّٰبِرُوۡنَ
Wa qoolal laziina uutul 'ilma wailakum sawaabul laahi khairul liman aamana wa 'amila saalihaa; wa laa yulaq qoohaaa illas saabiruun
80. Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata, "Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan menjalankan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu cuma diperoleh oleh orang-orang yang sabar."

فَخَسَفۡنَا بِهٖ وَبِدَارِهِ الۡاَرۡضَ فَمَا كَانَ لَهٗ مِنۡ فِئَةٍ يَّـنۡصُرُوۡنَهٗ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰهِ وَمَا كَانَ مِنَ الۡمُنۡتَصِرِيۡنَ
Fakhasafnaa bihii wa bidaarihil arda famaa kaana laho min fi'atiny yansuruu nahuu min duunil laahi wa maa kaana minal muntasiriin
81. Maka Kami benamkan ia (Karun) bareng rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu kelompok pun yang hendak menolongnya selain Allah, dan ia tidak tergolong orang-orang yang sanggup membela diri.

وَاَصۡبَحَ الَّذِيۡنَ تَمَـنَّوۡا مَكَانَهٗ بِالۡاَمۡسِ يَقُوۡلُوۡنَ وَيۡكَاَنَّ اللّٰهَ يَبۡسُطُ الرِّزۡقَ لِمَنۡ يَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِهٖ وَيَقۡدِرُ‌ۚ لَوۡلَاۤ اَنۡ مَّنَّ اللّٰهُ عَلَيۡنَا لَخَسَفَ بِنَا‌ ؕ وَيۡكَاَنَّهٗ لَا يُفۡلِحُ الۡكٰفِرُوۡنَ
Wa asbahal laziina tamannaw makaanahuu bil amsi yaquuluuna waika annal laaha yabsutur rizqa limany ya shaaa'u min 'ibaadihii wa yaqdiru law laaa am mannal laahu 'alainaa lakhasafa binaa waika annahuu laa yuflihul kaafiruun
82. kedudukannya (Karun) itu berkata, "Aduhai, benarlah kiranya Allah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menangkal (bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya). Sekiranya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya pada kita, tentu Dia sudah membenamkan kita pula. Aduhai, benarlah kiranya tidak akan mujur orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)."

تِلۡكَ الدَّارُ الۡاٰخِرَةُ نَجۡعَلُهَا لِلَّذِيۡنَ لَا يُرِيۡدُوۡنَ عُلُوًّا فِى الۡاَرۡضِ وَلَا فَسَادًا‌ ؕ وَالۡعَاقِبَةُ لِلۡمُتَّقِيۡنَ
Tilkad Daarul Aakhiratu naj'aluhaa lillaziina laa yuriiduuna 'uluwwan fil ardi wa laa fasaadaa; wal 'aaqibatu lilmuttaqiin
83. Negeri darul abadi itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa.

مَنۡ جَآءَ بِالۡحَسَنَةِ فَلَهٗ خَيۡرٌ مِّنۡهَا‌ ۚ وَمَنۡ جَآءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَى الَّذِيۡنَ عَمِلُوا السَّيِّاٰتِ اِلَّا مَا كَانُوۡا يَعۡمَلُوۡنَ
Man jaaa'a bilhasanati falahuu khairum minhaa wa man jaaa'a bissaiyi'ati falaa yujzal laziina 'amilus saiyiaati illaa maa kaanuu ya'maluun
84. Barangsiapa tiba dengan (membawa) kebaikan, maka ia akan memperoleh (pahala) yang lebih baik ketimbang kebaikannya itu; dan barang siapa tiba dengan (membawa) kejahatan, maka orang-orang yang sudah menjalankan kejahatan itu cuma diberi jawaban (seimbang) dengan apa yang dulu mereka kerjakan.

اِنَّ الَّذِىۡ فَرَضَ عَلَيۡكَ الۡقُرۡاٰنَ لَرَآدُّكَ اِلٰى مَعَادٍ‌ ؕ قُلْ رَّبِّىۡۤ اَعۡلَمُ مَنۡ جَآءَ بِالۡهُدٰى وَمَنۡ هُوَ فِىۡ ضَلٰلٍ مُّبِيۡنٍ
Innal azii farada 'alaikal Qur-aana laraaadduka ilaa ma'aad; qur Rabbiii a'lamu man jjaaa'a bil hudaa wa man huwa fii dalaalim mubiin
85. Sesungguhnya (Allah) yang mengharuskan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur'an, sungguh-sungguh akan mengembalikanmu ke daerah kembali. Katakanlah (Muhammad), "Tuhanku mengenali orang yang menjinjing isyarat dan orang yang berada dalam kesesatan yang nyata."

وَمَا كُنۡتَ تَرۡجُوۡۤا اَنۡ يُّلۡقٰٓى اِلَيۡكَ الۡكِتٰبُ اِلَّا رَحۡمَةً مِّنۡ رَّبِّكَ‌ فَلَا تَكُوۡنَنَّ ظَهِيۡرًا لِّـلۡكٰفِرِيۡنَ
Wa maa kunta tarjuuu ai yulqooa ilaikal Kitaabu illaa rahmatam mir Rabbika falaa takuunanna zahiiral lilkaafiriin
86. Dan engkau (Muhammad) tidak pernah mengharap biar Kitab (Al-Qur'an) itu diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) selaku rahmat dari Tuhanmu, alasannya merupakan itu janganlah sekali-kali engkau menjadi penolong bagi orang-orang kafir,

وَلَا يَصُدُّنَّكَ عَنۡ اٰيٰتِ اللّٰهِ بَعۡدَ اِذۡ اُنۡزِلَتۡ اِلَيۡكَ‌ وَادۡعُ اِلٰى رَبِّكَ‌ وَلَا تَكُوۡنَنَّ مِنَ الۡمُشۡرِكِيۡنَ‌ۚ
Wa laa yasuddunnaka 'an Aayaatil laahi ba'da iz unzilat ilaika wad'u ilaa Rabbika wa laa takonanna minal mushrikiin
87. dan jangan hingga mereka menghalang-halangi engkau (Muhammad) untuk (menyampaikan) ayat-ayat Allah, setelah ayat-ayat itu diturunkan kepadamu, dan serulah (manusia) biar (beriman) terhadap Tuhanmu, dan janganlah engkau tergolong orang-orang musyrik.

وَلَا تَدۡعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ‌ۘ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ‌ ۚ كُلُّ شَىۡءٍ هَالِكٌ اِلَّا وَجۡهَهٗ‌ؕ لَـهُ الۡحُكۡمُ وَاِلَيۡهِ تُرۡجَعُوۡنَ
Wa laa tad'u ma'al laahi ilaahan aakhar; laaa ilaaha illaa Huu; kullu shai'in haalikun illaa Wajhah; lahul hukkmu wa ilaihi turja'uun
88. Dan jangan (pula) engkau sembah tuhan lainnya selain Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu tentu binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan cuma kepada-Nya kau dikembalikan.

Related : Al-Qur'an Surat Ke-28. Qs. Al-Qasas (Kisah-Kisah) 88 Ayat Terjemahan Bahasa Indonesia

0 Komentar untuk "Al-Qur'an Surat Ke-28. Qs. Al-Qasas (Kisah-Kisah) 88 Ayat Terjemahan Bahasa Indonesia"